image

Jam 1.30 kira2 kita mulai makan siang dan di
tengah acara baru tampak Wian dan dua
temannya keluar dari kamar, rupanya baru
bangun. Mereka langsung cuci muka dan ikut
makan bareng kita. Jam 3 aku ajak Rani ke sungai
untuk ngobrol dan kita duduk di batu besar dekat
pohon pisang. Kita ngobrol ngelanjutin omongan
tadi soal gaya pacaran Rani dengan cowocnya.
“Ran… boleh ngga’ aku nyobain cara kamu kalo
mainin cowoc loe?” tanyaku.
“Tadi khan udah” jawab Rani.
“Itu Ran yang pake dijepit segala” kataku lagi.
Tanpa menjawab tangan Rani mulai bergerilya ke
permukaan celana pendekku. Dielusnya perlahan
dari kepala, batang sampe ke bijinya dan sesekali
menyusup di antara kedua pahaku. Setelah
beberapa lama meriamku mulai menegang dan
Rani mulai meremas-remas gemas… dia mulai
menyusupkan jemarinya lewat lobang bawah, di
sela paha kananku, dan siapun mulai berjongkok
hingga pantatnya terendam air, terus karena
mungkin dia merasa repot maka celana
pendekku berikut CDku ditariknya sekaligus. Dia
mulai lagi mengurut meriamku… ach… nikmatnya,
mana yang ngocokin cewec kece banget lagi…
dan aku mulai berpikir, ini anak terlalu sempurna
untuk sebuah kenyataan, aku harus berhasil
memilikinya dan sekaligus membawanya ke
tempat tidur (jelasnya ya dientot).
Sementara pikiranku melayang jauh… rasa di
selangkanganku mulai mengayun seirama
tingginya nafsuku dan Rani mulai menjulurkan
lidahnya perlahan dia jilat bijiku dan lidahnya
menari berputar di sekitar bijiku, aku pandang
wajahnya… aduh cantik banget ini cewec… aku
ngga’ habis2nya memuji dalam hati, dan di
antara desahku aku makinmembulatkan tekadku
untuk memilikinya, tapi gimana caranya? Aku elus
rambutnya yang rada2 coklat (bukan pirang), dia
mendongak dan tersenyum manis sekali, kini aku
merasakan kocokannya makin cepat dan makin
cepat seirama dengan nafsuku yang kian
menggelora…
“Aduh Ran… enak sekali… ngga’ kuat rasanya
nahan lama2″ kataku di antara eranganku.
“Kalo mo keluar bilang ya” pesannya.
Seiring dengan kocokannya yang makin cepat,
jilatannyapun kini telah merambah sampai
setengah batang meriamku dan sesekali diselingi
dengan gigitan kecil… tak lama kemudian…
“Ran… aku mo keluar” teriakku tertahan, takut di
dengar orang lain.
Dengan sigap Rani mencaplok kepala meriamku
dan menyemburlah laharku menyirami rongga
mulutnya yang mungil. Aku mengejang di atas
batu besar dekat pohon pisang… dan Rani
menghisap habis sisa laharku dan diakhiri
dengan jilatan pada lobang penisku…
“Nikmat sekali Bang…” komentarnya setelah
melahap habis spermaku yang kutumpahkan.
“Ran… kita berenang yuk” ajakku setelah kami
istirahat sejenak.
Rani mulai melolosi pakaiannya dan berendam,
akupun tidak mau ketinggalan dan kami sama2
berenang telanjang bulat menuju ke arah sungai
yang lebih dalam, lama juga kami berenang
berduaan di situ, lokasinya sekitar 20 meter dari
tempat kami meletakkan pakaian, tapi posisi
sungai yang menikung menyebabkan kami tidak
dapat melihat pohon pisang di mana aku dan
Rani meletakkan pakaian kami.
Tiba-tiba kami dikagetkan dengan munculnya
Resti dari dalam air yang disusul oleh Wian…
ternyata mereka menyelam dari arah batu sampe
ke tempatku berenang… dan aku lihat Vina hanya
dengan bikini ditutup kain Bali sebatas pinggang
menyusur jalan di tepian sungai dan di
belakangnya aku lihat Ratna.
“Ayo kita renang rame2″ ajakku.
Dan merekapun ikut menanggalkan pakaiannya…
jadilah kita berenam berenang bugil total…
pemandangan ini kalo dilihat dari atas bener2
kaya di taman Firdaus kali ya? Mana
pemandangan indah, cewec dan cowoc pada
bugil… pokoknya asyik punya dech saat itu. Aku
menyelam mendekati dasar sungai dan melewati
kaki2 mulus… dari situ aku bisa melihat body
mulus milik Vina, Resti, Rani dan Ratna juga…
melihat pinggul Rani aku jadi terangsang…
pinggulnya cukup gede dan putih bersih… mana
bulunya masih sangat jarang lagi… karena
nafasku mulai habis, aku menyembul ke
permukaan pas di depan Rani… saat menyembul
mukaku hampir saja menyentuh dadanya yang
super besar itu… Rani sedikit kaget karena aku
terlalu dekat. Aku pegang pundak Rani dan
mendorongnya rebah di air… Rani mulai
tenggelam dengan posisi tengadah dan aku
berusaha renang di atas tubuhnya, otomastis
meriamku menyapu mulai paha sampai ke dada
Rani… dengan sigap Rani merusaha meraih
meriamku yang melintas di depan wajahnya…
membuatku oleng… dan aku berenang menukik
ke bawah, sesaat kemudian kami sama2 keluar
kepermukaan dan posisi kami saling berhadapan,
Rani masih menggenggam meriamku dengan
sedikit meremasnya… tiba2 Vina berenang ke
arah kami dan menerobos di antara aku dan
Rani… setelah itu dia keluar kepermukaan untuk
mengambil nafas lalu kembali menyelam… kali ini
hanya berjongkok di depanku dan aku
merasakan ada yang menggenggam meriamku
kembali, belum aku sempat menoleh ke bawah,
aku telah merasakan meriamku tersedot-sedot…
ternyata Vina sedang menghisap meriamku dari
dalam air… aduh… enak sekali rasanya… tak lama
Vina muncul lagi kepermukaan dan bilang “Enak
Joss?”, belum sempat aku menjawab, dia telah
masuk ke air lagi dan mulai menghisap lagi…
sebentar kemudian dia keluar lagi… “Ran…
pinjem Jossy bentar ya” katanya permisi pada
Rani. Tanpa menanti jawaban dari yang ditanya,
tau2 dia telah berdiri di depanku dengan
menggenggam meriamku dan dijepitkannya di
antara kedua pahanya. Ternyata tidak cuman
itu… dia berusaha memasukkan meriamku ke
dalam liang vaginanya… dan setelah beberapa
kali berusaha, akhirnya masuk juga meriamku
dalam liang Vina… dan kami saling berciuman aku
mulai menggoyang perlahan maju mundur.
Setelah beberapa saat Vina mengajakku untuk
pindah ke tepi sungai, dekat batu yang cukup
besar, di mana air hanya sampai di lutut, di situ
Vina menunggingkan pantatnya dan minta aku
tusuk dari belakang, dengan kaki kananku
bertumpu di atas batu dan kaki kiriku terendam
air, aku mulai mengarahkan meriamku ke liang
kehangatan Vina yang tampang menganga merah
jambu… sebelum mulai masuk, aku bilas dulu
meriamku dengan air sungai yang cukup dingin…
Aku pegang pinggul Vina dan mengayun
pinggulku dengan irama yang teratur… sesekali
aku pindahkan tanganku untuk meremas
dadanya… beberapa lama kemudian aku dengar
nafas Vina mulai memburu dan makin menderu
seirama dengan makin kerasnya tempo
ayunanku… kemudian Vina mulai mengerang dan
aku rasakan ada dua nafas yang memburu
bersahutan, satu Vina tapi satunya lagi bukan
aku, aku menoleh ke asal suara yang ada di
belakangku, rupanya aku lihat Rani sedang
menggosok-gosokkan jarinya di antara
selangkangannya… dengan sedikit membungkuk
dan wajah yang merintih, aku jadi makin
bersemangat dan membayangkan Vina yang
sedang kukerjai ini adalah Rani… beberapa detik
kemudian bobollah pertahananku menyusul
Vina….
Rani rupanya belum juga selesai dengan
menggosok-gosoknya… dia pindah duduk dekat
batu besar di mana aku baru bermain dengan
Vina. “Bang… tolong donk” pintanya memelas.
Akupun sadar, tapi bagaimana aku baru keluar
dan Rani masih perawan, jadi dengan
membungkuk (berjongkok) aku mencium dan
menjilati vagina Rani, tubuhku terendam
sepinggang karena posisiku yang berjongkok
dipinggiran sungai.Rani rebahan di batu besar,
sedang Vina rebahan di sebelah Rani. Aku
julurkan lidahku menyapu permukaan bibir
vertikal Rani… aku mainkan dengan cepat pas di
permukaan kacangnya… Rani mengerang hebat,
makin ganas aku mainkan lidahku dengan
menyelingi sedotan pada kacang Rani itu… rasa
asin2 asyik.
Ranipun mengejang pada akhirnya. Aku duduk di
dasar sungai sampai sebatas dada dan
bersandar pada batu besar itu. Kepalaku aku
sandarkan di batu di antara betis Rani yang
terjuntai ke bawah, lalu Vinapun menyusul duduk
di sisiku dengan merebahkan kepalanya di
pundakku. Aku coba untuk memejamkan mata
dan meresapi arti nikmat yang baru kudapat.
Sambil menikmati sisa2 kenikmatan serta lelah,
aku dengan mata masih terpejam, mulai
memikirkan apa yang sebaiknya aku lakukan
untuk nanti malam.
Jam 7.20 malam itu setelah selesai makan dalam
kegelapan, karena kalo pas hari Nyepi di Bali
khan tidak boleh nyalakan lampu, api dan segala
sejenisnya. Emang sich kita makannya dari jam 6
lebih dan selesainya sekitar jam 7an jadi masih
ada sinar dikit, karena sunset di Bali sekitar jam
6.30 – 6.45 WITA. Malam itu sepertinya juga
gerhana bulan jadi ngga’ ada bulan nampak…
gelap banget jadinya apa lagi di Ubud… di mana
kalian tau sendiri seperti apa lokasinya…
pokoknya gelap banget dech. Kita semua duduk2
di teras belakang menghadap ke sungai di bawah
sana yang saat itu sudah tidak tampak lagi karena
gelapnya. Iseng2 aku ajak mereka jalan2
menyusuri sungai sambil patroli, dari pada iseng
di rumah nganggur.
“Boleh aja, tapi gua ganti celana panjang dan
pake mantel dulu ya” sahut Vina.
“Iya… gua juga mo ganti pakean dulu” susul
Resti.
Kita siap ke sungai sekitar jam 7.45an… kali ini kita
ke arah kiri dari belakang rumah, kalo tadi siang
kita ke arah kanan rumah. Kita berjalan
beriringan, selain jalannya sempit kita jalannya
nerobos kebun orang. Jauh juga kita berjalan dan
terkadang kita berhenti, perjalanan emang
tersendat

bro promosi lagu,mohon di download karya temanku sendiri disini brooo

About az09az

kumpulan cerita sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s