Cerita sex
Pada akhir Januari 2004, aku dan pacarku
(Michael) menonton film Lord Of The Ring 3 di
sebuah mall besar di Jakarta Barat. Film dimulai
sekitar jam 4 sore.Karena keberuntungan saja,
kami dapat tiket pada kursi deretan paling atas
(berkat mengantri 5 jam sebelumnya) walau
berada di hampir pojok kanan. Film ini sangat
digandrungi anak-anak muda saat itu, jadi kami
perlu memesannya jauh sebelum film dimulai.
Aku sebenarnya kurang begitu suka film seperti
ini namun karena pacarku terus membujuk,
akhirnya aku ikut saja. Lagipula aku merasa tidak
rugi berada di dalam bioskop selama 3 jam lebih
karena memang selama itulah durasi film
tersebut.
Setelah duduk di dalam bioskop, kami membuka
‘perbekalan’ kami (berhubung selama 3 jam ke
depan kami akan terpaku di depan layar). Aku
mengeluarkan popcorn dan minuman yang telah
kami beli di luar.
Michael duduk di sebelah kiriku. Dua bangku
paling pojok di sebelah kananku masih kosong.
Beberapa menit kemudian, trailer film-film sudah
mulai diputar. Menjelang film Lord Of The Ring
dimulai, seorang pria bersama pacarnya duduk di
sebelah kananku. Aku hanya dapat melihatnya
samar-samar karena suasana di dalam ruangan
itu sangat gelap.
Pria itu duduk tepat di sebelah kananku dan
pacarnya di sebelah kanan pria itu. Mereka pun
mengeluarkan makanan dan minuman untuk
disantap selama film diputar.
Sepuluh menit berlalu setelah film tersebut
berjalan. Aku sekilas melihat pria di sebelahku
menaruh tangan kirinya di alas lengan di antara
kursi kami berdua. Sedangkan tangan kanannya
menggenggam tangan pacarnya.
Ia mengenakan sebuah cincin dengan hiasan
batu cincin besar yang sangat mencolok di jari
tengah tangan kirinya. Dan di jari manisnya ia
mengenakan sebuah cincin yang sangat
sederhana. Menurut analisaku pria ini telah
menikah. Selain dari cincin yang kuduga adalah
cincin pernikahan, aku juga melihat sekilas wajah
pria itu.
Kulitnya lebih hitam dari kulitku yang putih (aku
dari keturunan chinese). Dari wajahnya aku
memperkirakan umurnya sekitar 35-an. Akan
tetapi aku tidak sempat melihat wanita yang
datang bersamanya (istrinya?). Pikiranku
menduga-duga apakah pria ini sedang
berselingkuh dengan wanita lain. Namun segera
aku tepis pikiran itu dan mengatakan pada diriku
sendiri bahwa pria itu sedang bersama istrinya
dan tidak perlu aku berprasangka buruk
terhadap mereka.
+/- tutup/baca lebih jauh…
Aku kembali berkonsentrasi pada film di layar di
hadapanku sambil menikmati kudapan. Sesekali
Michael juga meraup popcorn yang kupegangi
itu. Michael begitu serius menonton. Memang ia
sangat menyukai film yang merupakan akhir dari
2 seri sebelumnya. Setengah jam kemudian,
semua makanan dan minuman yang kami beli
tadi sudah habis.
Boleh dikatakan film itu sangat tegang. Dengan
adegan perang yang sangat seru, mataku mau
tidak mau terpaku pada layar. Pada satu adegan
yang mengejutkan, aku sampai terlonjak dan
berteriak. Michael meraih tangan kiriku dan
menggenggamnya dengan lembut. Aku pun
semakin mendekatkan diri padanya karena
memang pada dasarnya aku takut menonton
adegan perang.
Dari ujung mataku, aku merasakan pria di
sebelahku memandangi kami (atau aku?). Karena
pria itu hanya sebentar saja memandangi kami,
aku tak menggubrisnya. Akan tetapi makin lama,
pria itu semakin sering dan semakin lama
memandangi kami. Aku menyempatkan diri untuk
melirik ke arahnya dan benar dugaanku bahwa
pria itu memang memandangi kami, atau lebih
tepatnya ia memandangi aku.
Walau merasa risih, aku memutuskan untuk
mengacuhkan pria itu. Untunglah film itu terus
menerus mengetengahkan adegan-adegan yang
seru sehingga aku dapat dengan mudah
melupakan pria itu.
Film telah berlangsung hampir setengahnya.
Michael berkata bahwa ia ingin buang air kecil.
Dalam gelap, ia meninggalkanku (kebetulan film
bukan sedang adegan yang seru).
Setelah Michael hilang dari pandanganku, tiba-
tiba pria itu menepuk lenganku dan berkata,
“Sudah baca bukunya?”
Aku terlonjak karena kaget tiba-tiba diajak
ngobrol seperti itu di tengah pemutaran film.
Seingatku aku tidak pernah berbicara dengan
orang asing di dalam bioskop (apalagi saat film
sedang berlangsung).
Aku mengira-ngira apa yang dimaksud dengan
pertanyaan pria itu. Aku rasa ia menanyakan
tentang buku Lord Of The Ring 3. Aku menjawab
singkat, “Belum.”
Entah mengapa jantungku jadi berdebar kencang.
Ada perasaan aneh yang menyelimuti hatiku.
Campuran antara kaget, curiga, penasaran dan…
takut. Dari awal berbicara denganku, pria itu
menatap mataku dalam-dalam seperti sedang
membaca pikiran dalam benakku.
“Sayang sekali. Baca dulu deh, baru bisa lebih
menikmati filmnya,” pria itu menyanggah dengan
suara yang dalam namun pelan.
Setelah itu ia kembali menatap ke depan dan
meneruskan menonton. Aku ditinggalkan dalam
perasaan yang tidak menentu dan agak kosong.
Anehnya aku merasa seperti ingin menangis.
Pada saat itulah Michael kembali.
Aku tidak menceritakan kejadian aneh itu
kepadanya. Mungkin karena aku tidak ingin
mengganggu kenikmatannya menonton film itu.
Tapi alasan yang lebih menonjol adalah
timbulnya rasa takut untuk menceritakannya
kepada pacarku saat itu.
Aku berusaha untuk menonton lagi walau
pikiranku terus melayang ke sana kemari. Ketika
pikiranku berputar-putar tak tentu arah, tiba-tiba
aku merasakan ada yang menyentuh pundak
kananku.
Awalnya aku mengira Michael yang
menyentuhnya. Tetapi setelah kuperhatikan, ia
sama sekali tidak bergerak (ia masih serius
memperhatikan layar bioskop).
Aku melihat ke belakangku. Tidak ada apa-apa
karena memang kami duduk di baris paling
belakang. Aku melihat ke sebelah kananku dan
mendapati pria itu sedang menonton dengan
asik bersama istrinya.
Setelah lelah mencari-cari, aku kembali
menonton. Dalam hati aku masih mencari-cari
apa yang menyentuh pundakku itu. Tadi aku
benar-benar merasakan sebuah tangan
menyentuh pundakku. Aku yakin benar. Namun
aku jadi bingung karena tidak melihat adanya
orang lain di sekitarku yang mungkin
melakukannya.
Kepalaku menjadi pusing dan berputar. Aku
merasa mual dan tidak enak badan. Aku
menutup mataku untuk menenangkan pikiranku.
Beberapa detik kemudian, aku merasakan diriku
seperti sedang mengapung di air yang sejuk dan
tenang. Semua perasaan tak enak tadi
sekonyong-konyong lenyap begitu saja dan
digantikan dengan perasaan nyaman dan santai.
Mataku masih terpejam pada saat aku kembali
merasakan sebuah tangan menjamah pundak
kananku. Aku berusaha untuk tetap tenang. Aku
melirik ke pria di kananku. Ia duduk berdempetan
dengan istrinya. Pria itu sedang merangkul
pundak istrinya.
Kecurigaanku padanya langsung hilang begitu
mengetahui ia tidak sedang berada dekat dengan
tubuhku. Aku menengok ke Michael dan juga
mendapati ia sedang asyik menonton. Dengan
adanya perasaan sebuah tangan sedang
merangkul pundakku, aku meneruskan
menonton sambil mencoba untuk tidak
memikirkan hal itu. Usahaku sia-sia.
‘Tangan’ di pundak kananku bergerak-gerak ke
atas dan ke bawah seperti sedang mengusap-
usap lembut tubuhku. Kemudian aku merasakan
ada angin hangat berhembus perlahan meniup
bagian kiri leherku.
Aku langsung menengok ke arah datangnya
angin itu. Tidak ada apa-apa. Michael sedang
duduk melipat tangan di depan dadanya sambil
bersilang kaki.
Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku
merasakan leherku dijilat. Ya, aku benar-benar
merasakan sebuah lidah yang hangat dan basah
menyapu leherku itu. Bulu kudukku spontan
meremang.
Langsung aku menengok lagi sambil mengusap
leherku pada bekas jilatan itu. Kering. Tidak
basah sama sekali. Dan tidak ada apa-apa di
sampingku.
Michael rupanya agak terganggu dengan
kegelisahanku. Dia menanyakan ada apa. Aku
tidak memberitahukannya. Aku menyuruhnya
untuk kembali menonton.
Michael kembali menonton. Ia menggenggam
tangan kiriku dan mendekatkan tubuhnya
sehingga lengan kanannya menempel dengan
lengan kiriku. Aku masih merasakan pundak
kananku dirangkul oleh ‘tangan’ yang tak nampak.
Dalam posisi yang lebih dekat dengan pacarku,
aku bisa menjadi lebih tenang. Namun perasaan
tenang itu hanya sebentar.
Kuping kiriku dikecup dengan lembut. Aku
menengok ke kiri. Tetap saja tidak ada apa-apa
selain Michael yang sedang menatap serius layar
di depan.
Aku mulai panik. Jangan-jangan ada mahluk
halus di dalam bioskop itu, pikirku. Aku
merasakan kembali kecupan itu. Mulai dari
telingaku lalu bergerak ke bagian belakangnya.
Pada saat kecupan itu menghampiri belakang
telingaku, darahku mendesir dengan kuat.
Jantungku berdebar. Hanya Michael (dan diriku
tentunya) yang tahu bahwa belakang telinga
merupakan titik erogenku (erogen = daerah pada
tubuh yang sensitif terhadap rangsangan sexual).
Aku melepaskan nafas yang panjang melalui
mulutku sambil mengubah posisi duduk. Michael
melihat perubahan pada diriku. Tentu ia mengira
aku bosan karena setelah itu ia mengusap-usap
tanganku yang digenggamnya.
Entah apa yang sedang terjadi pada diriku. Hanya
karena Michael mengusap-usapkan jari-jarinya di
tanganku, aku menjadi terangsang. Hal seperti ini
belum pernah terjadi sebelumnya. Walau kami
sudah berpacaran lebih dari setahu

About az09az

kumpulan cerita sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s