image

Cerita Dewasa Seks Ngentot
Abg dan Pembantu Seksi yang
menggairahkan
Cerita Dewasa Seks ini akan
mengisahkan cerita sex seruku
menggarap cewek abg dan juga
seorang pembantu temanku yang
binal dan hipersex. Gimana sih cerita
dewasa sekaligus cerita sex yang akan
aku ceritakan kali ini ? yuk disimak aja
cerita dewasa seru dan cerita dewasa
sex berikut ini.
Aku terbangun karena hp ku
berdering. Kulihat Dina, abg yang
kugarap tadi malam, masih terlelap.
Toketnya yang montok bergerak
seiring dengan tarikan napasnya.
Pengen aku menggelutinya lagi, tetapi
temanku Ardi sedang menunggu
diujung hp. Aku keluar kamar supaya
Dina gak terganggu dengan
pembicaraanku. “Baru bangun ya”,
terdengar suara Ardi diujung sana.
“Iya, mau ngapain pagi gini dah
nelpon, masih ngantuk”, jawabku.
“Gini ari baru bangun, udah jam 10
nih. Pasti ngegarap abg ya”. “La iya
lah”, jawabku. “Ada apa”. “Tukeran
abg yuk, aku semalam main ama
pembantu sebelah”. “Pembantu?
emangnya gak ada cewek yang lain”,
kataku, rada kesel. Masak Dina mau
dituker ama pembantu. “Tunggu dulu,
biar pembantu Ana cantik kaya anak
gedongan. Bodinya montok banget
dan napsunya gede banget, maunya
terus2an main. Kamu pasti puas lah
main ama dia”. “Masak sih, kalo
cewekku Dina, anak skolahan, montok
dan binal kalo di ranjang”, jawabku
lagi. “Ya udah, kita tukeran aja, mau
enggak. Kalo mau aku ama Ana cabut
kerumahmu sekarang”. Aku tertarik
juga dengan tawaran, pengen juga
aku ngeliat kaya apa sih pembantu
yang katanya kaya anak gedongan,
“Ok, dateng aja”. Pembicaraan
terhenti. Aku kembali ke kekamar.
Dina udah bangun. “Ada apa om, mau
maen lagi gak”, katanya sambil
tersenyum. “Belum puas semalem ya
Din. Temen om tadi nelpon ngajakin
om tuker pasangan. Dina mau gak
maen ama temennya om. Dia juga ahli
kok nggarap cewek abg kaya Dina”,
jawabku. “Kalo nikmat ya Dina sih mau
aja”, Dina bangun dari tempat tidur
dan masuk kamar mandi. Aku
menyusulnya. Sebenarnya aku napsu
lagi ngeliat Dina yang masih telanjang
bulat, tetapi karena Ana mau dateng
ya aku tahan aja napsuku. Kita mandi
sama sambil saling menyabuni
sehingga kon tolku ngaceng lagi. “Om,
kon tolnya ngaceng lagi tuh, maen lagi
yuk”, ajak Dina sambil ngocok kon
tolku. “Kan Dina mau maen ama
temennya om, nanti aja maennya.
Temen om ama ceweknya lagi menuju
kemari”, jawabku. Sehabis mandi, kita
sarapan dulu. Dina tetep aja
bertelanjang bulat sementara aku
cuma pake celana pendek saja. Selesai
makan aku menarik Dina saung
dipinggir kolam renang yang ada
dibelakang rumahku. Dina kupeluk
dan kuciumi sementara tanganku
sibuk meremes2 toket montoknya.
Dinapun gak mau kalah, kon tolku
digosok2nya dari luar celana ku.
Sedang asik, Ardi dan Ana datang. Ardi
sudah biasa kalo masuk rumahku
langsung nyelonong aja kedalem,
karena kami punya kunci rumah
masing2. Ana ternyata cantik juga,
seperti bintang sinetron berdarah
arab yang aku lupa namanya. Ana
make pakean ketat, sehingga toketnya
yang besar tampak sangat menonjol.
Pantatnya yang besar juga tampak
sangat menggairahkan. Ana terkejut
melihat Dina yang bertelanjang bulat.
Kuperkenalkan Dina pada Ardi, Ardi
langsung menggandeng Dina masuk
ke rumah.
“An, Ardi bilang dia nikmat banget
ngen tot sama kamu, no nok kamu
bisa ngempot ya, aku jadi kepingin
ngerasain diempot juga”, kataku
sambil mencium pipinya. “An, kamu
napsuin banget, tetek besar dan
pantat juga besar”. “Dina kan juga
napsuin pak”, jawabnya sambil duduk
disebelahku di dipan. “Jangan panggil
pak dong, panggil om. Kan saya
belum tua”, kataku sambil
memeluknya. Kucium pipinya sambil
jemariku membelai-belai bagian
belakang telinganya. Matanya
terpejam seolah menikmati usapan
tanganku. Kupandangi wajahnya yang
manis, hidungnya yang mancung lalu
bibirnya. Tak tahan berlama-lama
menunggu akhirnya aku mencium
bibirnya. Kulumat mesra lalu
kujulurkan lidahku. Mulutnya terbuka
perlahan menerima lidahku. Lama aku
mempermainkan lidahku di dalam
mulutnya. Lidahnya begitu agresif
menanggapi permainan lidahku,
sampai-sampai nafas kami berdua
menjadi tidak beraturan. Sesaat
ciuman kami terhenti untuk menarik
nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi
dan lagi. Kubelai pangkal lengannya
yang terbuka. Kubuka telapak
tanganku sehingga jempolku bisa
menggapai permukaan dadanya
sambil membelai pangkal lengannya.
Bibirku kini turun menyapu lehernya
seiring telapak tanganku meraup
toketnya. Ana menggeliat bagai cacing
kepanasan terkena terik mentari.
Suara rintihan berulang kali keluar
dari mulutnya di saat lidahku menjulur
menikmati lehernya yang jenjang.
“Om….” Ana memegang tanganku
yang sedang meremas toketnya
dengan penuh napsu. Bukan untuk
mencegah, karena dia membiarkan
tanganku mengelus dan meremas
toketnya yang montok.”An, aku ingin
melihat toketmu”, ujarku sambil
mengusap bagian puncak toketnya
yang menonjol. Dia menatapku. Ana
akhirnya membuka tank top ketatnya
di depanku. Aku terkagum-kagum
menatap toketnya yang tertutup oleh
BH berwarna hitam. Toketnya begitu
membusung, menantang, dan naik
turun seiring dengan desah nafasnya
yang memburu. Sambil berbaring Ana
membuka pengait BH-nya di
punggungnya. Punggungnya
melengkung indah. Aku menahan
tangan Ana ketika dia mencoba untuk
menurunkan tali BH-nya dari atas
pundaknya. Justru dengan keadaan
BH-nya yang longgar karena tanpa
pengait seperti itu membuat toketnya
semakin menantang. “toketmu bagus,
An”, aku mencoba mengungkapkan
keindahan pada tubuhnya. Perlahan
aku menarik turun cup BH-nya. Mata
Ana terpejam. Perhatianku terfokus ke
pentilnya yang berwarna kecoklatan.
Lingkarannya tidak begitu besar
sedang ujungnya begitu runcing dan
kaku. Kuusap pentilnya lalu kupilin
dengan jemariku. Ana mendesah.
Mulutku turun ingin mencicipi
toketnya. “Egkhh..” rintih Ana ketika
mulutku melumat pentilnya.
Kupermainkan dengan lidah dan
gigiku. Sekali-sekali kugigit pentilnya
lalu kuisap kuat-kuat sehingga
membuat Ana menarik rambutku. Puas
menikmati toket yang sebelah kiri, aku
mencium toket Ana yang satunya yang
belum sempat kunikmati. Rintihan-
rintihan dan desahan kenikmatan
keluar dari mulut Ana. Sambil
menciumi toket Ana, tanganku turun
membelai perutnya yang datar,
berhenti sejenak di pusarnya lalu
perlahan turun mengitari lembah di
bawah perut Ana. Kubelai pahanya
sebelah dalam terlebih dahulu
sebelum aku memutuskan untuk
meraba no noknya yang masih
tertutup oleh celana jeans ketat yang
dikenakan Ana. Aku secara tiba-tiba
menghentikan kegiatanku lalu berdiri
di samping dipan. Ana tertegun
sejenak memandangku, lalu matanya
terpejam kembali ketika aku membuka
jeans warna hitamnya. Aku masih
berdiri sambil memandang tubuh Ana
yang tergolek di dipan, menantang.
Kulitnya yang tidak terlalu putih
membuat mataku tak jemu
memandang. Perutnya begitu datar.
Celana jeans ketat yang dipakainya
telihat terlalu longgar pada
pinggangnya namun pada bagian
pinggulnya begitu pas untuk
menunjukkan lekukan pantatnya yang
sempurna. Puas memandang tubuh
Ana, aku lalu membaringkan tubuhku
disampingnya. Kurapikan untaian
rambut yang menutupi beberapa
bagian pada permukaan wajah dan
leher Ana. Kubelai lagi toketnya.
Kucium bibirnya sambil kumasukkan
air liurku ke dalam mulutnya. Ana
menelannya. Tanganku turun ke
bagian perut lalu menerobos masuk
melalui pinggang celana jeans Ana
yang memang agak longgar. Jemariku
bergerak lincah mengusap dan
membelai selangkangan Ana yang
masih tertutup CDnya. jari tengah
tanganku membelai permukaan CDnya
tepat diatas no noknya, basah. Aku
terus mempermainkan jari tengahku
untuk menggelitik bagian yang paling
pribadi tubuh Ana. Pinggul Ana
perlahan bergerak ke kiri, ke kanan
dan sesekali bergoyang untuk
menetralisir ketegangan yang
dialaminya.
aku menyuruh Ana untuk membuka
celana jeans yang dipakainya. Tangan
kanan Ana berhenti pada permukaan
kancing celananya. Ana lalu membuka
kancing dan menurunkan reitsliting
celana jeansnya. CD hitam yang
dikenakannya begitu mini sehingga
jembut keriting yang tumbuh di sekitar
no noknya hampir sebagian keluar
dari pinggir CDnya. Aku membantu
menarik turun celana jeans Ana.
Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku
agak kesusahan menarik celana jeans
Ana. Akupun melepas celana
pendekku. Posisi kami kini sama-sama
tinggal mengenakan CD. Tubuhnya
semakin seksi saja. Pahanya begitu
mulus. Memang harus kuakui
tubuhnya begitu menarik dan
memikat, penuh dengan sex appeal.
Kami berpelukan. Kutarik tangan
kirinya untuk menyentuh kon tolku
dari luar CD ku. “Oh..” Ana menyentuh
kon tolku yang tegang. “Kenapa, An?”
tanyaku. Ana tidak menjawab, malah
melorotkan CD ku. Langsung kon tolku
yang panjangnya kira-kira 18 cm serta
agak gemuk dibelai dan
digenggamnya. Belaiannya begitu
mantap menandakan Ana juga begitu
piawai dalam urusan yang satu ini.
“Tangan kamu pintar juga ya, An,”´
ujarku sambil memandang tangannya
yang mengocok kon tolku. “Ya, mesti
dong!” jawabnya sambil cekikikan.
“Om sama Dina semalem maen
berapa kali?” tanyanya sambil terus
mengurut-urut kon tolku. “Kamu
sendiri semalem maen berapa kali
sama Ardi?” aku malah balik
berrtanya. Mendapat pertanyaan
seperti itu entah kenapa na

About az09az

kumpulan cerita sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s