image

Pengalaman Bersama Mbak Ina
Sudah sepuluh tahun aku bekerja di
suatu perusahaan swasta. Diawali
dengan membaca iklan yang dimuat
oleh perusahaan tersebut, keesokan
harinya aku datang membawa berkas
yang dibutuhkan dan memasukkan
lamaran lewat Sekretaris Eksekutif
Direktur Utama, Ibu Ina namanya.
Orangnya cantik, langsing dan
menarik. Setelah melalui seleksi yang
cukup ketat, akhirnya aku diterima
bekerja. Aku sangat senang dan
bekerja dengan giat.
Berkat kerja keras, pimpinan
memberikanku kesempatan
meningkatkan keterampilan dengan
sekolah lagi di luar kota, sehingga
akhirnya aku memperoleh jabatan
yang semakin tinggi. Ibu Ina yang
dulunya jauh kedudukannya di atasku,
menjadi semakin dekat, sehingga kami
sering bertemu. Setelah duduk di
jajaran eksekutif, barulah aku tahu
bahwa ia sudah bersuami dan
mempunyai dua orang anak yang
sudah duduk di bangku SLTA dan
SLTP. Padahal sejak kulihat pertama
kali, aku sudah naksir dia, sayang ia
sudah menikah. Ibu Ina yang kulihat
sepuluh tahun lalu, belum banyak
berubah, meskipun sudah berusia 40
tahun. Aku sendiri berusia 5 tahun di
bawahnya. Keterampilan dan
penampilannya selalu mempesona,
sehingga posisinya semakin menanjak,
bahkan setelah menyelesaikan
pascasarjana strata dua ia diangkat
sebagai Manager pada bidang quality
control. Meskipun setahun yang lalu
aku menikahi Waty, seorang gadis
manis dari Klaten, aku tetap menjadi
pengagum diam-diam Ibu Ina. Tak
seorang pun di kantor yang
mengetahui betapa aku begitu
memujanya.
Suatu ketika Direktur Utama
memanggilku, “Saudara Agus saya
tugaskan mengikuti pertemuan
dengan beberapa rekanan di Yogya
selama 3 hari.” Aku sempat kesal
waktu dipanggil menerima tugas
tersebut, karena ada ulah bawahan di
bagianku yang membuatku uring-
uringan dan harus kubereskan dalam
waktu 5 hari. Aku sempat menolak
halus, “… tapi maaf Pak, bukankah
saya harus membereskan masalah di
bagian saya?” Sang Direktur berkata,
“Tentang hal itu tidak perlu saudara
risaukan, saya sudah menugaskan
orang lain untuk menyelesaikannya.”
Lalu ditambahkannya, “Oh ya, saudara
saya minta membantu sepenuhnya
Ibu Ina, salah seorang manager kita
untuk mempresentasikan di depan
rekanan tentang manajemen mutu
perusahaan kita. Pertemuan ini sangat
penting dalam rangka menjalin kerja
sama ke depan. Saudara saya minta
bersungguh-sungguh dalam tugas ini.
Saya mempercayakan saudara
mendampingi Ibu Ina mengingat
kemampuan saudara yang telah saya
lihat selama ini.” Ups, aku terhenyak
kaget, bukan hanya karena
kepercayaan yang diberikan kepada
saya, tetapi karena seakan
mendapatkan durian runtuh. “Pucuk
dicinta ulam tiba,” pikirku, “Tiga hari
bersama si Cantik Bu Ina tentunya
akan sangat menyenangkan.” Rasanya
tidak sabaran menunggu saat
keberangkatan.
Sehari sebelum keberangkatan ke
Yogya, Ibu Ina memanggilku dan
mengatakan,
“Dik Agus, aku agak deg-degan naik
pesawat akhir-akhir ini, sehingga
meskipun seharusnya kita naik
pesawat, aku telah memesan dua tiket
kereta api eksekutif malam untuk kita.
Tetapi lumpsum kita tidak dikurangi
selama berada di sana. Harap Dik
Agus maklum dan tidak keberatan atas
keputusanku,” nada suaranya
terkesan galak dan tegas.
Kujawab dengan spontan, “Tak apa-
apa, Bu, demi menemani Ibu Ina,
saya bersedia jalan kaki sekalipun.”
Ia tersenyum kecil sambil mencubit
lenganku. Wah, terkejut hatiku karena
tidak menduga mendapat perlakuan
demikian. Ah, berjuta rasanya. Kuelus-
elus lenganku menikmati bekas
cubitannya. Ia hanya memandangku
dengan tatapan yang tak kumengerti.
Saat berangkat dari Stasiun Gambir,
aku duduk di sebelah kanan Bu Ina.
Kami ngobrol begitu akrab, seakan-
akan dua sahabat lama yang bertemu
kembali. Wangi parfumnya begitu
menggodaku, apalagi rambutnya yang
sebahu tergerai lepas dan anak
rambutnya sesekali mengenai
keningku dikala kami berbincang-
bincang.
Menjelang tengah malam, Bu Ina
minta ijin tidur duluan. Memang
sebelumnya kulihat ia sudah menguap
tanda mengantuk. Aku masih
membaca majalah sambil sesekali
melirik wajahnya yang cantik. “Ah,
betapa lembut wajahnya, andaikan
aku dapat mengelusnya,” batinku.
Lamunanku semakin melambung
manakala tubuhnya semakin rapat ke
tubuhku dan kepalanya rebah di
pundak kiriku. Tak enak mengganggu
tidurnya, kubiarkan saja kepalanya
bersentuhan dengan kepalaku,
bahkan beberapa kali kudekatkan
hidungku menghirup wangi
rambutnya. Tak tahan dengan situasi
itu, tangan kiriku kuletakkan ke
pundak kirinya, merangkul tubuhnya.
Kurasakan pipinya bersentuhan
dengan pipiku. Ah, betapa halusnya.
Tapi aku tak berani berbuat lebih
jauh. Tak lama kemudian aku tertidur
dalam posisi memeluk pundaknya.
Tiba di Yogya, aku duluan bangun dan
kuperbaiki letak dudukku agar ia tidak
malu jika mengetahui kupeluk
pundaknya semalaman. Kami pun naik
taksi menuju hotel tempat pertemuan
kami yang dimulai hari itu.
Setelah dua hari lamanya berada di
Yogya, pertemuan kami berakhir
sehari lebih cepat dari yang
dijadwalkan. Bu Ina berbisik padaku
usai makan siang,
“Dik Agus, tidak ada rencana mau
kemana siang ini? Kalau tidak
mengganggu, habis makan siang ini,
tolong temani aku belanja ya?”
“Baik Bu, ke manapun Ibu minta, akan
saya antar,” jawabku sambil
memperhatikan wajahnya.
Siang itu kami berdua berjalan
sepanjang Jalan Malioboro. Usai
belanja, Ibu Ina mengajakku naik
delman menuju hotel tempat kami
menginap. Kami masuk ke kamar
masing-masing. Letih juga berjalan
menemani Bu Ina berbelanja. Aku
berpikir ingin memanjakan diri sambil
membersihkan tubuh, kemudian aku
bertelanjang menuju kamar mandi
dan berendam di bathtub. Rasanya
belum lama berendam, telepon di
kamar berdering kudengar berdering.
“Sial, siapa yang ganggu orang
sedang santai gini?” gerutuku. Kutarik
handuk dan mengeringkan tanganku,
lalu dengan bertelanjang, aku keluar
kamar mandi dan mengangkat gagang
telepon.
“Sedang ngapain, Dik?” kudengar
suara lembut di seberang sana, “Ah,
ternyata Ibu Ina,” pikirku.
“Sedang mandi, Bu, habis gerah
banget abis jalan-jalan tadi,” jawabku.
“Waduh, maaf ya, jadi ganggu
kegiatan Dik Agus,” sesalnya, “Kalau
gitu, teruskan aja mandinya.”
Khawatir ia butuh bantuanku, dengan
cepat kubantah, “Tidak apa-apa, Bu.
Sudah selesai koq. Ada yang bisa saya
bantu, Bu?”
“Gini lho Dik, tapi maaf lho, terus-
terusan aku minta bantuanmu.
Sekarang kan sudah pukul enam, tadi
petugas hotel memberitahuku ada film
bagus di bioskop yang dekat hotel ini.
Aku ingat waktu kuliah dulu di
Bulaksumur suka nonton di situ.
Bagaimana kalau tak ada acara, Dik
Agus temani Mbak nonton? Tapi
makan malam dulu deh!” Aku terkejut
campur senang mendengar
ajakannya, tetapi lebih kaget lagi
waktu mendengarnya mengganti
sebutan dirinya dengan Mbak. “Ah,
ada apa nih?” pikirku penasaran.
“Wah, dengan senang hati, Bu. Bila
perlu kita makan di luar aja, supaya
tidak telat nontonnya,” timpalku
dengan hati berbunga-bunga.
“Jangan panggil Ibu terus dong, kita
kan sedang tidak di kantor. Panggil
Mbak gitu, apalagi Mbak belum setua
ibumu, bukan?” katanya di seberang
sana.
“Maaf, Bu … eh .. Bu … eh .. iya Mbak
Ina,” kataku terbata-bata.
“Nah, kan? Masih latah sebut Ibu
terus?” guraunya lagi. Kemudian
sambungnya, “Kita makan aja dulu,
baru nonton. Mbak tunggu di ruang
makan hotel tiga puluh menit lagi ya?”
serunya tanpa menunggu jawabanku
dan memutuskan pembicaraan.
Waktu makan malam, aku begitu
terpesona melihat penampilan Mbak
Ina (sekarang kuganti panggilannya
sesuai permintaannya tadi). Ia
mengenakan celana jeans dan kaos,
sebab ia tampil seperti anak muda
usia belasan tahun. Apalagi warna
lipstick tipis merah muda yang
menghiasi bibir mungilnya. Kami
makan berdua sambil berbincang-
bincang tentang berbagai hal.
Setelah makan, kami menuju bioskop
yang dimaksud Mbak Ina. Ternyata
film yang akan kami saksikan telah
berjalan setengah jam dan pintu
theatre sudah ditutup. Ada film di dua
theatre lain, tetapi karena tidak
tertarik, Mbak Ine tidak mau. Sewaktu
melihat jadwal tayang, kami melihat
bahwa film yang akan kami tonton
masih akan diputar pukul 23.
“Bagaimana jika kita nonton tengah
malam Dik? Tokh kita masih nginap
semalam lagi dan besok sore baru
kembali ke Jakarta?” tukas Mbak Ina.
“Saya sih tidak keberatan, Mbak, asal
Mbak tidak takut tidur kemalaman
ntar,” kataku.
“Ah, sekali-sekali tidur larut malam tak
apa, kan? Apalagi sayang jika tadi kita
langsung pulang, padahal hotel ini
sudah dibayar mahal sampai besok
sore,” timpalnya sambil menarik
tanganku. “Kita jalan-jalan dulu deh
nunggu pukul sebelas,” tambahnya.
Kami pun keluar areal bioskop setelah
memesan tiket untuk pertunjukan film
pukul 23.
Kami berjalan-jalan dan menikmati roti
bakar dan wedang jahe di pinggir
jalan. “Ah, ternyata enak juga jalan
bareng Mbak Ina, bisa merakyat
begini, tidak hanya makan di restoran
mahal,” pikirku.
“Heh, ngapain, siang-siang sudah
ngelamun jorok,” tiba-tiba Mbak Ina
mengagetkan aku sambil mencubit
pipiku. Aku tersipu-sipu malu dan
menjawab,
“Nggak ngelamun koq, Mbak, cuma
heran aja, koq kita bisa begini akrab
ya, padahal di Jakarta tidak sempat
seperti ini?”
“Ah kamu … emang nyesel jalan
bareng Mbak?” ta

About az09az

kumpulan cerita sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s