Cerita 17 Tahun : Voni… Dimana Kau?.
Cerita ini terjadi di tahun 2002, ketika
saya, Agus, bekerja di sebuah
perusahaan IT di bilangan Jakata
Selatan. Perusahaan saya saat itu
menyewa sebuah rumah yang
dijadikan kantor. Selain perusahaan
saya, rumah tersebut juga disewa oleh
dua perusahaan lainnya yang
bergerak di bidang jasa. Saat itu saya
bekerja sebagai staf administrasi.
Perusahaan saya terbilang kecil, hanya
memiliki karyawan di bawah sepuluh
orang saja.
Kehidupan seksual saya sebenarnya
normal, saya telah berkeluarga dan
memiliki anak berumur satu tahun.
Kebahagiaan kami berjalan seperti
layaknya sebuah keluarga kecil yang
bahagia, tanpa kekurangan satu hal
pun.
Hingga pada suatu saat, perusahaan
yang bersebelahan dengan saya,
sebut saja PT A, mempekerjakan
seorang karyawati baru di bidang
administrasi. Namanya Voni. Gadis ini
berperawakan kecil, namun manis.
Berkulit sawo matang dengan mata
berbulu lentik. Rambutnya agak ikal.
Voni ini keturunan arab. Sering saya
dengar bahwa pria keturunan Arab
memiliki libido yang sangat tinggi.
Untuk perempuannya, saya belum
pernah mendengar selentingan
mengenai perilaku seksnya.
Kehadirannya menyita perhatian
semua karyawan yang bekerja di sana,
tidak hanya karyawan tempat
perusahaan Voni berkerja, PT A, tapi
semua perusahaan yang menyewa
tempat tersebut. Hal ini sangat
memungkinkan, karena memang
perangai Voni sangat ceria, agak
centil, dan juga selalu berpakaian ketat
mengundang birahi pria manapun
yang melihatnya.
Seringkali Aku dan Voni mencuri
pandang, pandangannya
mengisyaratkan sesuatu yang saat itu,
aku sendiri belum bisa menangkap
makna yang tersembunyi.
Suatu ketika, kami bertemu di depan
pintu masuk. Saat itu pintu masih
dalam keadaan terkunci, sehingga
kami terpaksa harus menunggu
sampai teman kami yang membawa
kunci datang. Dengan agak gugup,
saya mencoba memberanikan diri
menyapanya.
“Voni ya.. Gimana.. Kerasan kerja di
sini?” pertanyaan yang benar-benar
retoris, hanya sebagai ice breaking.
“Lumayan lah..” jawabnya sambil
menyodorkan kue kecil, “Mau Mas..?”
Aku ambil biskuit pemberiannya dan
mulailah pembicaraan mengalir lebih
lancar.
“Dari mana dapat info tentang
lowongan pekerjaan di sini?” selidikku.
“Saudara saya kenal dekat dengan
pemiliki PT A, lagipula saya masih
dihitung sebagai magang kok. Jam
kerjanya tidak terlalu memaksa, karena
saya masih sambil kuliah,” jawabnya
dengan manis. Terlihat jelas lesung
pipit di pipi sebelah kiri dan lentik bulu
matanya.
“Si Mas sombong ya.. Selama tiga
bulan saya kerja di sini, belum pernah
menegur saya, sedangkan yang lain
sudah saya kenal. Setiap saya lihat
Mas, pandangan Mas, dingin, seakan
tidak menghargai keberadaan saya”
“Ah itu perasaan Voni saja, saya tidak
begitu kok, kalau tidak percaya tanya
saja sama karyawan yang lain, Saya ini
tipenya periang loh..” obral saya.
“Tapi nggak apa-apa kok, justru
dinginnya Mas memancing rasa
penasaran saya..” timpalnya manja.
“Oh ya Mas, kalau ada waktu bisa
nggak Mas membantu saya
mengajarkan komputer Sabtu ini, saya
ada tugas dari kantor, namun agak
kesulitan menyelesaikannya, lagian si
Mas kan libur hari Sabtu..?”
undangnya penuh manja.
“Wah.. Belum tentu bisa..” timpal saya
sok menjual mahal, “Nanti lah akan
saya beritahu,” lalu kami pun saling
bertukar nomor HP.
“Mas.. Jadi nggak ngajarin saya, saya
sudah di kantor nih..” tanyanya pada
Sabtu itu.
“Wah saya lupa..” pikirku, karena
panik langsung saja saya jawab, “Iya
saya dalam perjalanan kok ke sana..”.
Setiba di kantor, Voni telah berada di
depan meja komputer. Dengan celana
jeans dan baju putih ketat, jenis
pakaian kesukaannya, jelas
mempertontonkan lekuk tubuh sintal
dan buah dadanya yang ranum.
Sambil menelan ludah aku hampiri
mejanya sambil memulai mengajarkan
komputer. Dari samping tampak jelas
dua tonjolan di balik baju ketatnya
tersebut, terlebih baju tersebut agak
terbuka di bagian atasnya. Langsung
saja darah saya berdesir melihat
pemandangan ini.
“Wuih.. Beda banget sama yang
dirumah..” pikirku.
Cukup lama aku mengajarinya
komputer hingga waktu makan siang
tiba. Saat itu aku memberanikan diri
menyapanya.
“Kamu nggak lapar?” tanyaku sambil
memegang perutnya, maklum sudah
hampir dua jam aku menahan libido
melihat pemandangan menggiurkan.
Tanpa dinyana ia menjawab
sekenanya.
“Lapar yang mana nih? Yang di perut
atau di bawah perut?”
“Wah berani juga nih anak. Ya dua-
duanya dong, terserah kamu mana
yang mau diatasi lebih dahulu, perut
atau bawah perut?” kataku kini
dengan mengelus pahanya.
“Terserah Mas deh..” tangannya
menggenggam tanganku dengan erat.
Tak berapa lama, matanya seakan
mengajakku untuk pindah ruangan.
Ruang atasannya, yang semula
dikunci dibukanya sambil
menggandeng tanganku. Aku yang di
belakangnya manut saja, karena
memang kami berdua sudah sangat
on.
Setiba di ruangan tersebut, langsung
saja kulumat bibir tipisnya.. Wuih
seperti di surga rasanya. Kecupanku
dibalasnya mesra dan terasa sekali
hangat bibirnya.
Lama bibir kami saling berpagutan.
Tak kusangka, ternyata responnya luar
biasa. Tanpa terasa tangan kami terus
menjalar mencari arah genggaman
yang seakan tidak pernah kami
dapatkan. Aku sendiri tidak jauh dari
menggenggam pantatnya yang sintal
di balik jeansnya, sambil sesekali
menggesekkan batangku ke arah
vaginanya. Sambil mendesah Voni
terus membalas ciumanku seakan
tidak ingin melepaskan. Sementara
aku mulai mencoba menelanjanginya.
Tangan kananku kucoba untuk
melepaskan zipper celana jeans Voni
dan juga celanaku. Kudengar semakin
keras desahannya ketika alat kelamin
kami saling bertemu, meskipun masih
terhalang oleh CD masing-masing.
Tak lama aku lepaskan pengikat
celana kami masing-masing dan
dengan cepat Voni menurunkan
celana jeansnya, demikian juga aku.
Kulucuti celanaku dan juga T-Shirt
yang menutupi badanku. Masih
mengenakan CD dan baju ketatnya,
Voni langsung kembali melumat
bibirku, sementara tangan kananku
mulai aktif mencoba menyusup ke
dalam CDnya. Dengan cepat Voni
memegang tangan kananku tersebut
sambil menggelengkan kepalanya.
Dengan kecewa kutarik tanganku dari
balik CDnya, meskipun sempat terasa
bulu-bulu halus yang telah
membasah karena rangsangan yang
ada.
Setelah gagal menembus CD, aku
mencoba memasukkan tanganku ke
dalam BHnya, kali ini Voni tidak
menolaknya, malah melenguh laksana
sapi saja. Tanpa terasa ternyata,
tangan kanan Voni telah meremas
penisku sementara tangan kirinya
melingkar di leherku. Tampak sekali
betapa Voni merasakan setiap
remasanku dan remasannya di
penisku. Setiap kudenyutkan penisku,
setiap kali pula Voni melenguh,
ditambah lagi ketika kuremas buah
dadanya dan kupelintir putingnya.
Tak tahan dengan permainan
tanganku itu, tiba-tiba Voni melenguh
dengan agak ditahan.
“Wah.. Cepat juga ‘dapat’nya nih
anak..” pikirku, sambil terus kuremas
dan kuhisap puting dan buah
dadanya.
Setelah merasakan orgasme
pertamanya, Voni kemudian
membungkuk menghadapku sambil
melepaskan atasannya. Praktis kini dia
hanya memakai CD saja. Sambil
membungkuk langsung saja dia
menurunkan CD Crocodile ku. Dengan
mantap dijilatnya kepala penisku
sambil meremas batang dan sesekali
mengelus buah pelirku. Slowly but
sure Voni memainkan penisku dengan
tiga unsur; tangan, mulut dan lidah.
Kombinasi gerakan, kocokan dan
kulumannya sungguh luar biasa.
Kembali kurasakan perbedaan ketika
aku menjamah istriku yang selalu ingin
konvensional saja.
Tak kuasa aku menahan
gempurannya, kuangkat kepalanya
dan kini ia kembali sejajar denganku.
Kulumat mesra kembali bibirnya
sambil berbisik.
“Boleh ya..?” tanyaku dan tanganku
mencoba masuk ke dalam CDnya
untuk kedua kalinya.
Kali ini ia tidak menjawab dan hanya
mengangguk. Dengan senang
kutelusuri bagian sensitif di bawah
perut tersebut. Terasa bulu-bulu
halusnya yang telah basah sejak
permainan tangan kami pertama.
Ketika tangan kananku mencobanya
masuk, tangan kiriku dengan perlahan
menurunkan CDnya. Kini kami telah
berhadapan naked. Mulai kugesek-
gesekkan penisku di depan vaginanya.
Desahan kudengar kembali dari
bibirnya, kali ini sambil kulirik ke
sekitar ruangan untuk dapat
bersandar, sampai akhirnya
kutemukan meja agak besar dan
sambil kudorong badannya ke arah
meja tersebut.
Setelah bersandar, Voni langsung
merebahkan tubuhnya di meja
tersebut dan langsung tampak jelas
kulit mulusnya dengan dua gundukan
di atas serta barisan ’semut hitam’ di
bagian bawah. Tahi lalat di samping
kiri perutnya menambah sensasi
rangsangan yang ada.
“Ayo cepat Mas..” ajaknya
mengaburkan lamunanku sambil
mencoba meraih penisku untuk
diarahkan ke liang vaginanya.
Tanpa menunggu waktu lama,
langsung saja kucoba membenamkan
penisku ke liang vaginanya. Wuih,
susah dan sempit sekali.
“Pelan-pelan Mas..” ucapnya lirih.
Tak kusangka tingkah lakunya yang
agak centil selama ini ternyata tidak
serta merta membuatnya menjadi
cewek gampangan. Terbukti, dia masih
perawan ketika aku menyetubuhinya
saat itu.
Dengan perlahan, kucoba
membenamkan penisku ke dalam
vaginanya. Masuk, kemudian keluar
dan kembali masuk, demikian
beberapa kali, untuk memberikan
space yang cukup agar penisku b

About az09az

kumpulan cerita sex

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s