cara bikin blog wordpress

Kisah ini berawal sewaktu aku masih
kuliah di Kota M, sekitar 8 tahun lalu,
dan sekarang umurku sudah 29 tahun
dan masih membujang. Kisah ini
adalah benar-benar nyata dan bukan
fiktif. Semua nama dalam kisah ini
adalah nama samaran.
Setelah menamatkan SMA di kota
kelahiranku, aku (Erick) melanjutkan
pendidikanku di salah satu PT negeri
di Kota M. Awalnya aku tinggal sendiri
(kost) disuatu tempat yang agak jauh
dari kampus tempat aku kuliah, karena
hanya ditempat itu aku mendapatkan
rumah kost yang relatif lebih murah
dari tempat yang lain. Setelah kuliah
selama hampir setahun, aku berlibur
kembali ke kota kelahiranku. Selama
liburan tersebut, aku dikenalkan oleh
keluargaku dengan salah seorang
saudara sepupuku yang ternyata juga
tinggal di Kota M tempat aku kuliah.
Namun karena tidak saling kenal baik,
walaupun masih saudara dekat, kami
saling tidak mengetahui kalau kami
berada satu kota selama ini. Saudara
sepupu ini, sebut saja Kak Rini,
sebelum menikah dengan Mas Tanto,
lahir dan besar di kota Jakarta
bersama orang tuanya, keluarga Tante
Ade.
Selama 2 tahun pernikahannya dan
menetap di kota M, Kak Rini belum
dikaruniai anak, mungkin disebabkan
karena kesibukan mereka berdua, Kak
Rini yang seorang karyawan bank
swasta, dan Mas Tanto yang seorang
dosen. Saat perkenalan itu, Rini telah
berusia 26 tahun, 5 tahun lebih tua
dariku dan Mas Tanto berusia 34
Tahun.
Keberadaan Kak Rini di kota
kelahiranku dalam rangka
mengunjungi kakek dan neneknya,
yang juga masih saudara dengan
nenekku. Selama liburan kami, aku
lebih banyak menemani Rini keliling
kota dan antar jemput mengunjungi
keluarga yang lain, Mas Tanto tidak
datang menemani berlibur.
“Dik Erick rencana balik ke Kota M,
kapan?”
Tanya Kak Rini sewaktu aku
mengantarnya pulang kerumah
neneknya, dari belakang sadel
boncengan motor milik kakakku.
“Mungkin seminggu lagi.”
Jawabku sambil mencoba merasakan
sentuhan payudaranya
dipunggungku.
Perlu pembaca ketahui, dengan tinggi
sekitar 168 cm dan berat ideal, ukuran
dada 36A dengan wajah cantik dan
manis dan kulit putih mulus yang
ditumbuhi bulu-bulu halus
sensasional, membuat aku tidak
merasa bosan dan capek menemani
Kak Rini keliling kota dan
mengantarnya menemani kemana saja
dia pergi.
“Kalau begitu, pulangnya dengan saya
saja, ya?!”
Katanya seperti berbisik ditelingaku
karena derasnya angin karena laju
kendaraan.
“Terserah kakak aja deh… ” kataku
menyepakati ‘perjanjian’ itu.
Seminggu setelah itu, kami pun
berangkat pulang bersama naik kapal
laut ke Kota M selama satu hari satu
malam perjalanan. Rencananya, setiba
di Kota M, aku akan diperkenalkan ke
suaminya dan sekalian mengajak aku
tinggal bersama mereka (selama ini
mereka hanya tinggal berdua di
kompleks perumahan), karena rumah
mereka masih cukup besar untuk
ditempati hanya berdua saja.
Singkat cerita, aku pun diperkenalkan
ke Mas Tanto yang mau menerimaku
dengan senang hati dan aku pun
mengemasi semua barangku dari
tempat kostku ke rumah mereka. Dan
disinilah awalnya cerita petualangan
seksku dengan Kak Rini.

cara bikin blog wordpress
Sebagai wanita cantik dan menarik,
aku pikir semua lelaki akan terpesona
oleh daya tarik sensual saudara
sepupuku ini. Akupun merasakannya
sejak pertama kenalan, menemaninya
selama liburan berkeliling kota, dan
terlebih selama perjalanan dengan
kapal laut kembali ke Kota M. Masih
teringat waktu pertama kali berjabatan
tangan, dengan senyum manisnya dia
memperkenalkan diri. Wajahnya mirip
dengan salah satu penyiar acara
kriminal di SCTV. Aku merasakan
sentuhan lembut jemarinya waktu aku
memegang tangannya, sentuhan
sensasional di kulitku ketika
bersentuhan dengan tangannya yang
ditumbuhi bulu-bulu halus, aroma
tubuh dan rambutnya waktu berjalan
berdampingan, juga hembusan
nafasnya kalau berbicara padaku yang
kadang-kadang terlalu dekat dengan
wajahku… pokoknya semua sensasi
yang dimilikinya membuat aku
berdebar dan membuat aku konak.
Aku tak tahu (pada waktu itu) apakah
hal itu disengaja atau tidak (setelah
beberapa tahun aku tahu ternyata itu
dia sengaja untuk memancing
responku menurut pengakuannya!),
yang jelas selama liburan, aku belum
berani menunjukkan reaksiku. Nanti
setelah kejadian di atas kapal laut
yang membawa kami ke Kota M, baru
aku berani menunjukkan
‘keberanianku’ pada Kak Rini, walau
dengan jantung dag dig dug…
Diatas kapal laut yang sesak karena
penumpang yang banyak, kami
mendapatkan tempat yang lumayan
’strategis’, walaupun itu bukan tempat
yang telah kami bayar untuk
perjalanan kami. Bersama dengan
beberapa penumpang lain (yang agak
lanjut usia dengan kebanyakan
wanita), kami menempati sebuah
sudut ruang kapal yang agak panas,
hal itu membuat kami kegerahan.
Menjelang tidur malam, Rini dengan
memakai kemeja yang didalamnya
dilapisi kaos oblong tanpa lengan
dengan celana jeans, terlihat mulai
mengatur tempat untuk tidur disudut
merapat kedinding ruang, sedangkan
aku dengan kaos oblong juga dan
celana pendek selutut berada diantara
Kak Rini dengan penumpang lain.
Sebelum tidur, Kak Rini membaca
sebuah majalah dan aku mengisi TTS.
setelah membaca majalah, Kak Rini
sudah tak tahan lagi kantuknya dan
tertidur, sedangkan aku melanjutkan
mengisi TTS dan membaca majalah.
Tak lama sesudahnya, lampu di
ruangan itu dipadamkan, mungkin
karena penumpang lainpun sudah
ingin memjamkan mata, walaupun
masih ada lampu yang menyala di
tengah ruangan tapi tidak cukup
untuk menerangi tempat aku
membaca majalah, akupun bersandar
sambil duduk berusaha untuk tidur.
Tapi karena udara yang agak panas
dan menggerahkan, mataku susah
terpejam. Kak Rini pun bangun dan
melepas kemejanya (tinggal kaos
oblong) dan kemejanya itu dipakai
untuk menyelimuti badannya sambil
tidur. Sewaktu Kak Rini melepas
kemejanya, dengan jarak sekitar 15 cm
dari hidungku, aku bisa merasakan
aroma tubuhnya yang terpancar dari
ketiaknya sewaktu lengannya bergerak
melepas kemejanya.
Aroma itu campuran aroma keringat
dan sisa parfumnya, dan itu
membuatku benar-benar melayang…
membayangkan aroma tubuh yang
sensasional seperti itu. Dan
diketiaknya yang putih, aku sempat
melihat secara samar rambut halus
hitam yang semakin membuatku ingin
merasakan langsung aroma ketiaknya.
Hmm… tak sadar aku memperbaiki
posisi ‘junior’ di celana pendekku, dan
hal itu terlihat oleh Kak Rini.
“Belum tidur, rick?”
Tanyanya berbisik sebelum berbaring
di sampingku.
“Belum nih,duluan aja!”
Jawabku sambil menatap matanya.
Rinipun akhirnya berbaring dengan
memiringkan badannya ke arahku,
sehingga kepalanya dengan pahaku
hanya berjarak sekian centi. Akupun
terus berusaha tidur sambil duduk
karena mataku belum mau terpejam.
Hembusan nafasnya terasa
menggelitik paha kiriku bagian luar,
dan mungkin saja Rini tahu kalau
penisku lagi tegang karena celana
pendekku di sekitar penisku agak
menonjol berdiri. Setelah capek duduk
dan mataku terasa muali berat
dengan angin laut yang mulai bertiup
sepoi-sepoi, akupun berbaring di sisi
Kak Rini. Saat aku mengambil posisi
baring, Rini memberiku sedikit ruang
sambil mengangkat lengan kanannya,
dan lagi-lagi tercium aroma tubuh
yang makin membuatku tegang.
Walaupun aku masih berbaring
terlentang dan Rini sedikit condong ke
arahku, aku bisa merasakan bahwa
kepalaku tepat berada di bawah
ketiaknya karena aku merasakan
lengan Kak Rini ada diatas kepalaku.
Kantukku pun hilang karena ‘posisi’
yang menguntungkan ini, aku sisa
mengarahkan mukaku ke arah Rini
dan ketiaknya sudah pasti ada di
mukaku. Aku coba untuk diam, namun
rangsangan yang timbul dari aroma
tubuh Kak Rini yang perlahan mulai
tercium membuat aku gelisah. Lama
setelah itu, sewaktu aku merasakan
nafas Rini yang beraturan menerpa
wajahku, baru aku perlahan-lahan
mengarahkan wajahku ke bawah
ketiaknya dan…
Hmm aroma itu benar-benar
membuat aku makin tak beraturan
untuk bernafas, antara rasa senang,
takut Kak Rini marah dan rangsangan
yang terus membuat jantungku
berdebar. Dengan jarak cuman sekita
3-4 cm antara hidungku dan ketiak
putih itu, Kak Rini pasti bisa
merasakan kegelisahanku, tapi
mungkin dia sudah nyenyak sampai
tidak merasakan hembusan nafas dan
sentuhan ujung lidahku diketiaknya.
Ketika aku sudah tak tahan lagi,
dengan jantung berdegup kencang,
perlahan aku mengambil jaket tebalku
untuk menutupi celanaku yang
semakin menonjol karena desakan
penisku (+15 cm) sambil memiringkan
badan ke arah Kak Rini sehingga
penisku merapat di paha Kak Rini
yang berbalut jeans dengan hidungku
dan bibirku yang telah menempel di
ketiaknya. Aku mencoba menahan
nafasku yang memburu sambil
melanjutkan jilatanku yang makin
berani ke arah pangkal payudaranya.
Semua itu aku lakukan dengan sangat
hati-hati, takut membangunkan Kak
Rini dan dia nampaknya masih seperti
semula dengan nafas yang masih
beraturan.
Dengan perlahan aku membuka
kancing tarik celanaku, meyampingkan
CD ku lalu kutarik penis yang sudah
sangat tegang keluar. Meski hanya
kepala penis dan sebagian batangnya
yang bisa keluar dari celanaku, aku
elus-eluskan di paha Kak Rini sampai
aku merasa ada cairan bening keluar
(bukan sperma yang kental) dan
menempel di celana jeansnya.
Mungkin aku akan te

About az09az

kumpulan cerita sex

One response »

  1. wiro sablenx mengatakan:

    seru nih….gw suka cerita sex yg begini….heheheheeeee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s