Baca juga cerita sex disini
http://www.cari-duwet.blogspot.com
http://www.sekumpulanceritaseks.blogspot.com
Namaku Marni, aku berumur 30 tahun,
suamiku bernama Ferry, berumur 35
tahun, dia bekerja sebagai tenaga ahli
pada sebuah perusahaan pengeboran
minyak lepas pantai. Kebanyakan
waktu kerjanya berada di atas Riq,
yaitu suatu tempat yang dibangun di
tengah laut, untuk pengeboran
mencari sumber minyak baru. Waktu
kerjanya adalah 2 minggu di atas Riq,
diikuti 1 minggu cuti di darat, demikian
berkelanjutan. Sehingga kalau Mas
Ferry sedang bertugas, maka aku
tinggal sendirian di rumah ditemani
oleh pembantu kami, Mbok Minah
yang telah berumur 55 tahun dan
telah mengikuti kami sejak kami
menikah, serta seekor anjing herder
jantan besar dan galak sebagai
penjaga rumah. Anjing herder ini
diberikan oleh seorang expatriate yang
berasal dari Italy, yang telah kembali
ke negerinya karena telah habis
kontrak. Pada waktu bertugas di
Indonesia, expatriate Italy tersebut
tinggal di rumah besar kontrakannya di
daerah Cipete berdua dengan istrinya
yang berumur 27 tahun. Istrinya
mempunyai tubuh yang sangat seksi
dan aku telah mengenalnya cukup
akrab, karena setiap suami-suami kita
sedang bertugas, kami sering saling
mengunjungi untuk berbagi waktu.
Pengalamanku yang berhubungan
dengan lelaki, tidak terlalu banyak dan
sebelum bertemu dengan Mas Ferry,
aku tidak terlalu banyak bergaul
dengan lelaki lain, karena biarpun aku
termasuk wanita yang berparas cantik
dengan badan yang menurut teman-
teman dekatku termasuk seksi, akan
tetapi entah mengapa, setiap kali ada
cowok yang bermaksud lebih dari
sekedar teman, aku langsung
mengambil jarak. Aku tidak tahu
bagaimana mula-mula bisa dekat
dengan Mas Ferry yang kebetulan
adalah teman abangku, biarpun
memang setiap kali Mas Ferry tidak
bertugas di Riq, dia selalu bermain di
rumahku, tapi toh hubungan kami
biasa-biasa saja. Hanya saja tiba-tiba
sekitar 5 tahun lalu, Mas Ferry
mengemukakan maksudnya untuk
menikahiku kepada kedua orang tuaku
dan entah karena bujukan orang tua
dan kakakku, ataupun karena memang
aku juga telah menaruh simpati
kepada Mas Ferry selama ini, akhirnya
aku menyetujui dan kami segera
melangsungkan pernikahan kami. Pada
waktu malam pertama kami itu, aku
mulai tahu bagaimana enaknya
hubungan kelamin antara pria dan
wanita, setelah selesai resepsi
pernikahanku. Kuingat pada hari itu
setelah selesai resepsi pernikahan
kami, yang dilakukan pada siang hari,
kami berdua beserta rombongan
keluarga kembali ke rumah baru kami.
Rombongan keluarga kami, pada jam
8 malam kembali ke rumah mereka
masing-masing, sehingga akhirnya aku
dan Mas Ferry hanya tinggal berdua
saja di rumah kami itu. Pada saat itu
Mbok Minah, pembantu rumah kami
itu belum ada, karena kupikir apa-apa
di rumah dapat dikerjakan sendiri. Aku
mandi duluan sebab badanku sudah
merasa gerah setelah seharian sibuk
dengan acara pesta yang padat itu.
Setelah selesai mandi dengan
mengenakan daster, aku duduk di
ruang keluarga sambil menonton TV.
Kemudian Mas Ferry yang pada saat
itu hanya bercelana pendek, kusuruh
mandi. Mas Ferry untuk ukuran umum
dapat dikatakan termasuk tampan.
Warna kulitnya agak gelap kehitaman,
pada wajahnya ada tumbuh rambut
halus di dagu dan dadanya cukup
bidang dengan tinggi badan berkisar
175 cm, otot-ototnya menonjol kuat.
Setelah selesai mandi Mas Ferry
dengan santai duduk di sebelahku
sambil ikut mengawasi televisi yang
remotenya masih di tanganku, “Mar,
apakah kamu capai?” tanya Mas Ferry.
“Tidak Mas, memangnya ada apa?”
jawabku lugu, karena memang aku
sesungguhnya tidak menyadari apa
yang seharusnya dilakukan oleh
sepasang pengantin baru. Rupanya
Mas Ferry yang telah sangat bernafsu,
mendengar jawabanku itu, tanpa ba bi
Bu segera menarik badanku dan
membekapku erat-erat dan sebelum
aku menyadari benar apa yang sedang
terjadi, kedua tangan Mas Ferry
dengan cepat segera menguak
dasterku dan sekalian ditariknya lepas
BH-ku sehingga kedua buah dadaku
yang ranum segera seolah- olah
melompat keluar. Mas Ferry terpesona
melihat bentuk buah dadaku yang
indah, yang warna kuning langsat
dengan bulatan kecil coklat tua
kemerahan, serta puting kecil
menantang di ujungnya. Aku mula-
mula mencoba memberontak, akan
tetapi aku segera sadar bahwa
sekarang aku adalah istri dari Mas
Ferry. Badanku segera dipeluknya dan
disandarkan pada sandaran sofa,
mulutnya langsung menuju puting
susuku, kurasakan lidahnya lincah
bergerak menjilat-jilat puting susuku,
menimbulkan suatu perasaan aneh,
geli yang tidak dapat kulukiskan, yang
menjalar keseluruhan badanku. Hal ini
membuat aliran darahku bertambah
cepat dan badanku tiba-tiba merasa
panas, puting susuku terasa semakin
mengeras, sesekali kurasakan gigitan
kecil gigi Mas Ferry menggores
putingku. Pada bagian perutku
kurasakan ada benda yang
membonggol besar mendesak dan
menekan hebat. Bibirku juga tak luput
dari lumatannya, terasa habis dilumat
bibirku, sampai aku tak bisa bernafas,
aku mulai berkeringat dan tiba-tiba
tangan kanannya mulai meluncur ke
bawah menuju ke arah kemaluanku
yang masih tertutup dengan CD,
diselipkan tangannya di antara
pahaku. Aku agak terkejut, sehingga
otomatis kedua pahaku kututup rapat-
rapat dan kedua tanganku memeluk
Mas Ferry erat-erat, Mas Ferry semakin
gencar saja melakukan aktivitasnya,
kemudian ditarik dasterku sampai
terlepas dan perlahan-lahan celana
dalamku dilucuti juga sambil
tersenyum. Setelah itu dengan sigap
direnggangkannya kedua pahaku,
sehingga dengan leluasa Mas Ferry
dapat melihat kemaluanku yang padat
dengan bulu hitam keriting, tangannya
mengocek kemaluanku yang sudah
agak basah itu dengan halus,
kemudian dimasukkannya jari tengah
perlahan-lahan ke dalam lubang
kemaluanku, sedangkan ibu jari dan
jari jempolnya menekan bibir- bibir
kemaluanku, membuka jalan dengan
meminggirkan rambut kemaluanku.
Klitorisku terasa kaku, sambil jari-
jarinya bermain-main di kemaluanku,
mulutnya menjilat dan menyedot buah
dadaku sampai aku kegelian dan tiba-
tiba dia berhenti menyedot buah
dadaku dan badannya melongsor ke
lantai dan kini Mas Ferry jongkok
diantara kedua pahaku, yang dengan
perlahan-lahan dikuakkan, sehingga
terbuka dan kepalanya dimajukan
kearah pangkal pahaku dan kurasakan
mulutnya sudah menempel pada
kemaluanku. Merasakan lidahnya yang
basah dan hembusan nafasnya pada
pangkal pahaku membuatku
menggelinjang kegelian, lebih-lebih
ketika kurasakan lidahnya menyapu
bersih ruang dalam kemaluanku yang
telah basah itu, sambil tangan
kanannya ikut membantu memainkan
klitorisku. “Aaagghh.. Maass.. aduuh..!”
aku mengerang-erang dan mengeliat-
geliat kegelian, tapi dia tidak
mempedulikannya, diteruskan
aktivitasnya mempermainkan klitorisku.
Selang sesaat, aku disuruhnya duduk
di lantai, diantara kedua kaki Mas Ferry
yang duduk di atas sofa dan aku
sangat kaget melihat benda bulat
besar yang terletak diantara kedua
paha Mas Ferry yang tegak
menghadap ke atas, batang kemaluan
Mas Ferry sungguh dahsyat, seperti
batang kemaluan pemain blue film
yang pernah dahulu satu kali kulihat di
video yang diputar di rumah seorang
teman wanitaku. Panjangnya kurang
lebih 17 cm dengan kepalanya batang
kemaluannya bulat besar seperti topi
baja tentara dan batang batang
kemaluannya berdiameter 3 cm,
dilingkari oleh urat-urat yang
menonjol. Mas Ferry hanya tersenyum
saat melihat mataku yang terbelalak
itu, sambil memegang batang
kejantanannya dan digerak-gerakkan
dengan tangannya, dia mengambil
tanganku dan disuruhnya aku
memegang batang kemaluannya.
Alamak.. tanganku tak cukup melingkar
pada batang kemaluannya yang besar
dan panjang itu. Dalam posisi Mas
Ferry duduk seperti itu, batang
kemaluannya memanjang di atas
perutnya sampai mencapai pusarnya.
Aku merinding dan takut juga
melihatnya benda panjang, bulat
berwarna hitam mengkilap mendongak
seperti belut besar itu. Tanpa sadar
badanku menggelinjang dan terasa
ngilu pada perut bagian bawahku,
membayangkan benda tersebut
menerobos masuk ke dalam liang
kewanitaanku yang kecil dan masih
sempit itu. “Kenapa kok diplototin
seperti itu!” tanyanya. “Eh.. aku heran
kok, kayak gini besarnya ya? apa
cukup nggak ya ini masuk ke dalam
punyaku nanti?” jawabku sambil tetap
memegangnya. Belum selesai aku
melanjutkan omonganku, ditekan
kepalaku ke arah perutnya dan
disorongkan ujung batang
kemaluannya ke mulutku, dan..
eehmm, mulutku tak muat
menampung semua batang
kemaluannya ke dalam. Kurasakan
aneh juga seperti sedang mengulum
es cream horn saja, aku mencoba
melakukan seperti apa yang pernah
kulihat pada VCD porno itu, aku
mencoba memainkan lidahku dan
mulutku maju mundur, sehingga
batang kemaluannya menyembul
tenggelam dalam mulutku. Tangannya
juga tidak tinggal diam menggapai
semua bagian tubuhku yang sensitif,
sehingga aku semakin terangsang. Aku
mencoba menjilat-jilat pula buah
zakarnya, pada ujung batang
kemaluannya, kurasakan ada cairan
bening sedikit cukup manis dan agak
asin terus kuhisap sambil mencoba
memasukkan kepala batang kemaluan
Mas Ferry ke dalam mulutku, sampai
mulutku tak mampu lagi menahan
besarnya batang kemaluan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s